Sebagai Upaya Deradikalisasi, PMII Pati Gelar Seminar Literasi

Seminar Literasi Medsos di Kalangan Mahasiswa dan Pemuda sebagai Upaya Deradikalisasi oleh PMII Cabang Pati di Aula Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati.

MARGOREJO – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pati menggelar seminar Literasi Medsos di kalangan mahasiswa dan pemuda sebagai Upaya Deradikalisasi di Aula Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati, Rabu (04/12/2019).

Acara ini dibuka oleh Rektor STAI Pati Aida Husna, dan dimoderatori oleh Ahmad Rifai, serta mengundang empat pembicara, yaitu Ngasiman Djoyonegoro sebagai Pengamat Intelijen, AKBP Jon Wesly Arianto, S.I.K selaku Kapolres Pati, Ali Rif’an selaku Direktur Arus Survei Indonesia, dan Anis Sholeh Ba’asyin selaku budayawan. Kegiatan ini diikuti hampir 150 peserta, berlangsung pukul 10.00 sampai 13.30 WIB. Diikuti oleh perwakilan mahasiswa, siswa-siswi tingkat SLTA, dan karang taruna se-Kabupaten Pati.

Di era milenial ini, di mana pemuda Indonesia banyak yang menggunakan media sosial setiap waktunya. Selain sisi positif, banyak sekali hal-hal negatif yang melingkupinya, entah dalam bentuk konten maupun paham dan ajaran yang semakin beragam jumlahnya. Maka dari itu mereka harus diberikan pembekalan, agar tidak terbawa dalam paham yang ekstremis dan radikalis.

“Penggunaan media sosial harus lebih hati-hati karena saat ini banyak informasi-informasi berbahaya, dan diharapkan mahasiswa dan siswa ini mampu memfilter sesuatu yang tidak baik di media ini. Harapannya agar para pemuda mampu bijak dalam bermedia sosial,” ujar Muhammad Shofiuddin, selaku Panitia.

Literasi Medsos Harus Saring Sebelum Sharing

Dalam menyimak media sosial itu harus berhati-hati agar tidak terbawa pada paham radikalisme. Radikal itu pemikiran, terorisme adalah tindakan. “Pemerintah ini lagi serius menggarap radikalisme. Karena radikalisme ini tidak hanya masuk di kelompok terdidik, tapi sudah masuk ke ASN. Karena banyak di kelompok pemerintah banyak yang menganut radikalisme. Literasi medsos harus saring sebelum sharing, dan sebagai orang tua harus mengawasi apa yang diakses oleh anggota keluarga, khususnya,” ujar Ali Rif’an, selaku Direktur Arus Survei Indonesia.

“Ciri-ciri radikalisme itu adalah intoleran, fanatik, merasa paling benar sendiri, revolusioner. Radikalisme itu bukan terorisme. Tapi radikalisme adalah embrio terorisme,” tambah Ali Rif’an.

Pun di sesi terakhir ada budayawan Anis Sholeh Ba’asyin yang mengatakan bahwa, literasi itu adalah membaca, namun di era milenial ini kita telah dihadapkan pada realita bahwa penggunaan media sosial sangat berpotensi bahwa paham radikalisme ini bisa menjangkau semua lapisan masyarakat terutama pemuda, maka jangan sampai alat komunikasi ini merusak hubungan atau menjauhkan yang dekat. Dan tidak perlu mengunggulkan identitas, karena semakin mengunggulkan identitas, maka toleransi akan semakin rendah. Karena berpikir radikal itu adalah berpikir mendalam, kuat tetapi keras, dan menganggap dirinya paling benar. Maka dari itu pemuda Indonesia harus siap membaca yang jelas, membaca yang cerdas, dan membaca yang bermanfaat.

Kegiatan seperti ini harus terus dilakukan agar pemuda semakin bijak dalam bermedia sosial sebagai bentuk pembekalan dari bahaya paham radikalisme untuk Indonesia yang aman, damai dan sejahtera ke depannya.