JM-PPK Adakan Kegiatan Nyiwer Kendeng 2020 Obor

Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) mengadakan kegiatan Nyiwer Kendeng 2020 Obor. (Foto: Ahmad Soewandi)

SUKOLILO – Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) mengadakan kegiatan Nyiwer Kendeng 2020 Obor. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya menyambut pergantian tahun menuju 2020 di Sukolilo pada senin (30/12/2019).

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah, yaitu Pati, Rembang, Blora dan Grobogan. JM-PPK terbentuk sejak beberapa tahun lalu. Bentuk kegiatan ini adalah berjalan kaki dengan membawa obor dimulai dari lapangan Kedumulyo sampai ke Omah Kendeng di daerah Misik, yang jaraknya ± 5.5 km. Ketika sudah sampai di Omah Kendeng (finish) diadakan pula pagelaran budaya wayangan, evaluasi gerakan dan rencana gerakan ke depan JM-PPK, kegiatan ini dimulai dari pukul 19.00 WIB – selesai.

Nyiwer sendiri artinya adalah menjaga, jadi nyiwer kendeng adalah menjaga kendeng dengan cara spiritual, yang harapannya selain hama yang tersirat seperti: tikus, wereng dsb. Selain itu ada juga hama yang tersurat yaitu peraturan-peraturaan yang tidak pro petani ini bisa direvisi sesuai keinginan seluruh rakyat.

Ahmad Soewandi, salah satu warga sangat mendukung gerakan dulurJM-PPK yang ikut meramaikan kegiatan ini. “JM-PPK ada karena pabrik semen yang mau mendirikan pabrik semen di wilayah Pegunungan Pendeng, dan JM-PPK sudah konsisten dalam waktu 10 tahun lebih untuk menolak pabrik semen di wilayah pegunungan kendeng,” ujar Soewandi.

Tetap Mempertahankan Kelestarian Alam

Selain itu, dalam momen ini pun digunakan untuk membahas masalah lingkungan. Melihat kondisi saat ini, hama yang menjadi musuh para petani merajalela. Hama yang dihadapi bukan hanya tikus, wereng, ulat, lebih-lebih hama yang sangat besar yaitu kebijakan dari pemerintah yang lebih pro investor yang tidak memperdulikan aspek lingkungan, yang sejatinya hanya akan menguras SDA Indonesia.

Selama perjalanan dari Kedumulyo sampai Omah Kendeng, masyarakat hanya berdoa dan tidak melakukan orasi apapun. Doa yang diucapkan dan lantunkan, yang mana mengandung makna bahwa sebenarnya apa yang lakukan selama ini adalah mengembalikan semuanya kepada Sang Khalik Tuhan, yang selama ini telah memberi bumi dengan segala isinya. Namun, manusia merusaknya, maka jangan salahkan jika bumi ini murka dengan banyaknya bencana di negeri ini. Dengan doa tersebut masyarakat ingin mengetuk lubuk hati yang dalam pada semua elemen, baik itu pemerintah sebagai pembuat dan pemangku kebijakan maupun masyarakat sebagai yang melakukan perusakan alam. Masa depan anak cucu kita yang terwarisi lingkungan yang lestari ada di tangan kita.

Selain itu, Sedulur Sikep atau biasa dikenal dengan Suku Samin, juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, bahkan sangat teguh menjaga kelestarian gunung kendeng. Salah satu tokohnya adalah Bapak Gun Retno mengatakan bahwa, “Selama ini kita sudah hidup dengan enak, dapat menghirup oksigen gratis, sumber daya alam juga baik dan melimpah. Maka sudah seharusnya kita menjaga lingkungan dan alam, bukan dengan merusaknya,” ujar Gun Retno.

“Siapa lagi yang bisa menjaga dan tetap mempertahankan kelestarian alam selain generasi muda, maka khususnya pemuda di wilayah pegunungan kendeng untuk tetap menjaga kelestarian alamnya, jangan merusaknya,” tambah Gun Retno.