Tradisi Tahunan Meron Sukolilo

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin di Acara Meron

SUKOLILO – Tahun ini acara meron berlangsung selama dua hari yaitu 10-11 November 2019 dan dihadiri oleh Bupati Pati, Wakil Gubernur Jawa Tengah, kepolisian, TNI, perangkat desa dan yayasan. Karnaval dan tradisi Meron ini merupakan agenda tahunan yang senantiasa menarik perhatian masyarakat Pati khususya. Sekalipun setiap tahun diselenggarakan, antusias masyarakat tidak semakin berkurang, justru semakin meningkat. Hal itu disampaikan Bupati Pati Haryanto saat membuka kegiatan Karnaval Gebyar Sultan Agung 2019 di halaman Yayasan Pengembangan Pendidikan Islam (YAPPI) Sultan Agung, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, senin (11/11/2019).

Seperti diketahui, tradisi meron di Kecamatan Sukolilo sudah dilakukan secara turun temurun dalam rangka memperingati hari lahir Nabi Muhammad atau Maulid Nabi. Kegiatan ini ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai meron. Nasi tumpeng tersebut diarak ke masjid Sukolilo sebagai bentuk upacara selamatan.

Bagi Bupati Pati Haryanto, kegiatan ini dapat mengingatkan masyarakat terhadap perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam menegakkan agama. Selain itu, peringatan maulid nabi juga merupakan bentuk penghormatan umat Islam kepada Rasulullah. “Di seluruh penjuru dunia, umat Muslim mengagungkan nama Rasulullah. Karena kita tahu, dulu di zaman Jahiliyah, orang beriman kesulitan dalam beribadah dan menjalankan keimanan pada Allah. Setelah kehadiran Rasulullah, sampai saat ini, kita mendapat pencerahan. Keimanan dan ketakwaan kita semakin meningkat,” ujar Bupati.

Ketua YAPPI Sukolilo Haris Rahmat mengatakan pihaknya senantiasa turut memeriahkan tradisi meron karena menganggap di dalam pelaksanaan tradisi ini terdapat nilai-nilai positif yang dapat mengembangkan kualitas kehidupan masyarakat. Haris mengatakan disamping 1.500 orang yang terdiri atas siswa-siswi, tenaga pendidik, dan karyawan YAPPI, Karnaval Gebyar Sultan Agung 2019 ini juga dimeriahkan Marching Band MA Salafiyah Kajen dan Paguyuban Tosan Aji Kanigoro Pati.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen menyebut tradisi meron sekarang ini sudah semakin maju dan bervariasi. “Tradisi meronan semakin ke sini semakin maju, apa yang ditampilkan semakin banyak. Kalau dulu untuk memperingati Maulud Nabi, memeriahkan syiar agama saja dan ada kultur-kultur yang diangkat. Akan tetapi sekarang sudah mulai dibuka lebar, ada penampilan kostum dan lain sebagainya. Ini baik, kita harus dorong, dikelola, dan dikembangkan,” ujar Wagub.

Tetap Mengutamakan Keamanan dan Kebersihan

Acara besar seperti ini tentunya banyak digunakan pihak-pihak tertentu yang tak bertanggungjawab dalam hal keamanan dan kebersihan. Karena banyaknya masyarakat yang ikut andil tentu sampah menjadi masalah yang paling utama dalam kegiatan ini. Selain itu keamanan pun harus dijaga dengan ketat agar kegiatan ini dapat berlangsung dengan aman dan damai. Wagub Jawa Tengah juga mengimbausecara langsung agar masyarakat turut menjaga kebersihan lingkungan selama kegiatan meronan ini berlangsung. “Diimbau kepada masyarakat untuk menjaga kebersihannya, sampahnya. Sehingga kalau orang datang, Sukolilo ini selain memiliki tempat wisata juga memiliki kebudayaan bersih,” lanjut Wabup.

Sementera itu, dari pihak keamanan yang dilakukan oleh Polres Pati juga turut mendukung serta mengamankan lancanya pelaksanaan meron sejak H-5 hingga H+1. “H-5 sudah saya tempatkan satu pleton dengan kekuatan 45 orang dengan dipimpin 6 perwira dan 1 pospam,” terang Sukadi dari perwakilan tim pengamanan.

Selain itu, pihaknya menyampaikan untuk menjaga kondusifitas acara meron telah dilakukan razia minuman keras dan patroli di lingkungan Sukolilo.