Hari Jadi Ke-1 KUPAT, Tingkatkan Kepercayaan Diri Sebagai Pengusaha

Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (Safin) Hadir dalam peringatan hari jadi KUPAT yang Ke-1 (Foto: Humassetda Pati)

Pati Kidul – Dalam rangka memperingati hari jadi Ke-1 Komunitas UMKM Pati (KUPAT) menggelar Tasyukuran, Sabtu (26/10/2019) di nDalem KUPAT Jalan Supriyadi Gang 3 Pati. Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (Safin) turut hadir.

Ketua KUPAT Yuli Sanjoto memperkirakan ada 4.000-an pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Kabupaten Pati yang belum bergabung, harapannya mereka bisa bergabung dan berkolaborasi dengan KUPAT. keuntungan jika bergabung, salah satunya adalah kekuatan jejaring sesama pelaku usaha.

“Karena, UMKM ini, kalau kita berjalan sendiri-sendiri tidak akan terlihat. Tapi kalau kita berkolaborasi, berkumpul bersama, kita akan semakin terlihat. Banyak juga keuntungan lain yang bisa didapat dengan berjejaring,” tambah Yuli.

Keunggulan berjejaring sebagai suatu komunitas, kemudian bekerjasama dengan dinas atau pemerintah daerah terkait dapat memasarkan produk UMKM lebih mudah dan mengeluarkan biaya yang tidak terlalu besar. Disamping kelebihan itu, Yuli juga memfasilitasi para pelaku UMKM baru dengan mengadakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kepercayaan diri sebagai pengusaha.

“Masih banyak pelaku usaha baru yang belum cukup percaya diri. Padahal, kalau kita tidak percaya diri, bagaimana konsumen akan percaya pada produk kita? Kadang, untuk mendapatkan kepercayaan diri sebagai pengusaha memang harus berlatih dulu. Di KUPAT ada pelatihan-pelatihan semacam itu,” ungkapnya.

Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (Safin) berharap, para pelaku UMKM di Kabupaten Pati tidak menganggap keterbatasan modal finansial sebagai hambatan dalam mengembangkan usaha. anggapan seperti itu tidak akan muncul dari seseorang yang memiliki mental pengusaha.

“Jangan pernah berpikir seperti itu. Itu bukan mental usaha,” ungkap Safin.

Tak hanya itu, Safin juga berpesan, para pelaku UMKM tidak sepatutnya terlalu bergantung pada program pemerintah dalam meningkatkan laju bisnis.

“Sebab, jika terlalu mengandalkan pemerintah, pelaku UMKM akan terninabobokan dan usahanya tidak akan berjalan dengan baik,” tambahnya.

Para pelaku UMKM meski harus memulai usaha dengan tertatih-tatih. memulai usaha memang berat. Namun, dengan adanya komunitas semacam KUPAT, para pelaku UMKM akan sangat terbantu dalam memenuhi satu di antara modal usaha yang paling berharga, yakni jejaring.

“Dari jejaring, kita bisa memperoleh pasar, bahan baku, koneksi, dan sebagainya. Ini era bisnis kolaborasi, bukan lagi monopoli. Dengan berjejaring dalam komunitas ini, para pelaku UMKM di Kabupaten Pati bisa maju dan sukses bersama,” tandas Safin.

jika jumlah wirausahawan mencapai 15% dari keseluruhan jumlah penduduk suatu daerah, pasti daerah tersebut akan menjadi maju. Menurut Safin, saat ini di Indonesia jumlah wirausahawan masih sekitar 3 sampai 4 persen dari total penduduk.

“Kalau sudah mencapai 15 persen atau lebih, itu sudah bisa dikatakan negara maju,” ucapnya.

Tingkatkan Kepercayaan Diri

Dinamika UMKM sendiri telah memberikan sumbangan yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian di indonesia. Menurut laporan World Bank, gerak UMKM amat vital untuk menciptakan pertumbuhan dan lapangan kerja. UMKM cukup fleksibel dan dapat dengan mudah beradaptasi dengan pasang surut dan arah permintaan pasar. UMKM juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan lebih cepat dibandingkan sektor usaha lainnya, serta cukup terdiversifikasi dan memberikan kontribusi penting dalam ekspor dan perdagangan.

Ada tiga kerangka pikir pemberdayaan koperasi dan UMKM menurut Rachma Fitriati diantaranya, pertama, pada tataran makro, kebjakan perbaikan lingkungan usaha diperlukan agar terjadi peningkatan daya saing koperasi dan UMKM. Dalam pengembangan tataran makro ini masih terdapat isu-isu meliputi persaingan usaha, biaya transaksi, ketersediaan sumber daya bagi UMKM, serta peran pemerintah, termasuk peran pemerintah daerah.

Kedua, pada tataran meso, pemberdayaan UMKM harus berfokus pada peningkatan akses UMKM terhadap sumber daya produktif untuk kepentingan peluasan usaha. Fokus upaya ini adalah pengembangan kelembagaan dan peningkatan kapasitas untuk mendukung pengembangan jaringan usaha, peningkatan akses UMKM terhadap pemodalan dan advokasi, serta peningkatan intensitas penerapan teknologi sesuai kebutuhan.

Ketiga, pada tatran mikro, pemberayaan UMKM harus memahami karakteristik dan perilaku pelaku usaha itu sendiri. Karakteristik dan perilaku pelaku usaha dapat menjadi modal awal bagi UMKM untuk memperbaiki tingkat daya saing usaha.

“Kerangka pikir ini menunjukan bahwa untuk memberdayakan UMKM diperlukan sejumlah prasyarat yang terncana, sistematis, dan menyeluruh”, ungkap Rachma Fitriati penulis buku Menguak Daya Saing UMKM Industri Kreatif: Sebuah Riset Tindakan Berbasis Soft Systems Methodology.