Bupati: SDM Budi Luhur Bisa Dibangun dengan Salawat

Bupati Pati Haryanto. (Foto: Diskominfo Pati)

Margorejo – Pembangunan sumber daya manusia (SDM) dinilai tidak kalah penting dengan pembangunan infrastruktur. Terlebih, untuk membangun SDM berbudi pekerti luhur cenderung lebih sulit karena membutuhkan proses yang panjang dan berkelanjutan.

Hal tersebut ditekankan oleh Bupati Pati Haryanto saat menghadiri acara Margorejo Bersalawat di Lapangan Margorej, Sabtu (19/10/2019). Menurut Bupati, untuk membangun SDM yang bertakwa dan berakhlak mulia, majelis salawat merupakan salah satu upaya yang cukup efektif. Untuk itu, dirinya mendorong agar majelis-majelis salawat semkain sering diadakan di Kabupaten Pati.

“Saya bersyukur hampir setiap malam selalu ada acara salawat semacam ini hampir di seluruh Pati. Acara semacam ini sangat baik. Ketika sering kali ada upaya untuk memecah belah umat, upaya itu bisa kita patahkan dengan mengadakan majelis-majelis semacam ini, yang bisa merukunkan kita bersama,” papar Bupati dalam laman resmi Pemkab Pati.

Bupati yakin, jiika majelis salawat sering diadakan, maka dapat membersihkan penyakit sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, Haryanto juga mengimbau agar warga Pati senantiasa menjaga kerukunan dan kondusivitas, jangan mudah terprovokasi, dan jangan mau dipecah-belah.

“Saya sudah pernah sampaikan, kalau ingin Margorejo ini bersih dari penyakit masyarakat, setiap Minggu adakan saja salawatan. Saya yakin dengan bersalawat, penyakit masyarakat akan hilang dengan sendirinya,” imbuh Haryanto.

Bangun SDM Berbudi Luhur melalui Pendidikan

Jika Bupati Pati berpendapat bahwa untuk membangun SDM berbudi luhur dengan bersalawat, Cakti Djaetun HS memiliki pandangan lain. Pendiri Yayasan Pendidikan Budi Luhur ini lebih berpandangan secara umum, bahwa pembangunan SDM yang berbudi luhur bisa dilakukan dengan jalan pendidikan.

Namun demikian, Cakti melihat saat ini pendidikan di Indonesia cenderung mengutamakan aspek kognitif dan mengabaikan aspek afektif seperti nilai budi luhur. Akibatnya, banyak manusia cerdas dan terampil, namun kurang memiliki komitmen terhadap ucapan, sikap, perbuatan, dan nilai-nilai budi pekerti.

Ia pun sangat menekankan pentingnya nilai-nilai budi luhur yang dapat diaplikasikan atau diimplementasikan oleh semua sivitas akademika. “Berbicara mengenai budi luhur adalah tentang mengajak orang menjadi baik. Dengan menjadi orang baik, maka kebaikan itu bukan hanya bermanfaat pada diri sendiri, tetapi juga sesamanya,” urai Cakti.

Selain itu, menurut Cakti, kebudiluhuran juga sangat terkait dengan ibu. Alasannya, ibu memiliki peran sangat penting dalam pembangunan karakter sejak dari kandungan hingga dewasa. “Oleh karena itu, jika bangsa ini akan melakukan revolusi mental, maka kuncinya adalah ibu,” tegasnya.

Sehubungan dengan nilai-nilai luhur tersebut, Rektor Universitas Budi Luhur Jakarta Hapsoro Tri Utomo menyebutkan, perlu perubahan paradigma dalam pendidikan. Menurutnya, pendidik dituntut untuk mampu mengintegrasikan nilai-nilai kebudiluhuran dalam mata pelajaran atau mata kuliah.

Salah satu caranya, terang Hapsoro, adalah dengan kreatif dan inovatif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Pasalanya, kemajuan teknologi dan informasi saat ini menuntut setiap orang untuk kreatif agar tidak hanya menjadi penonton. “Artinya adalah setiap orang, terutama tenaga pendidik harus memiliki kemampuan lebih untuk bisa bersaing dan mampu menjadi contoh bagi peserta didiknya,” papar Hapsoro.