Revolusi Industri Keempat

Sebentar lagi atau bahkan dunia bergerak memasuki era revolusi industri keempat. Revolusi industri Periode baru ini dapat memicu ketimpangan di sebuah negara semakin lebar karena dapat menimpa Indonesia, Thailand, Filipina, bahkan Amerika Serikat (AS) sekalipun.

Dalam sebuah era revolusi industri keempat ini, kita akan melihat tenaga manusia yang tergantikan oleh tekhnologi cyber.

Kita bayangkan bahwa harga robot tidak terlalu mahal hanya US$ 1.000, tapi kita dapat bayangkan ini (robot) bisa menggantikan tenaga kerja manusia yang tidak punya keahlian (unskill).

Misalnya saja pada saat ini banyak tenaga kerja yang ada di Tokyo, Jepang para tamu yang datang dapat bertanya atau berinteraksi dengan resepsionis robot dengan pilihan dua bahasa, yakni bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Hal tersebut menunjukkan akan ada satu pola pergeseran dalam sebuah proses produksi.

Di era revolusi industri keempat ini, hanya orang-orang yang memiliki keahlian dan keterampilan yang dapat bertahan. Lantaran perkembangan informasi teknologi begitu cepat dan mengalahkan kecepatan tanga manusia.

Orang yang memiliki kapasitas informasi teknologi, dapat hidup di mana saja. Kemudian bagaimana dengan yang unskill ? Nah, revolusi industri keempat ini bikin jurang ketimpangan semakin tinggi dan tidak dapat ditebak oleh pikiran manusia awam.

Dalam keadaan seperti ini, sambungnya, sudah seharusnya ada intervensi dari pemerintah untuk mengembangkan kemampuan sumber daya manusia. Indonesia, kata Chatib Basri (mantan Menteri Keuangan), tidak bisa lagi tergantung pada sumber daya alam maupun upah buruh murah. (Disampaikan menghadiri acara Seminar Pikiran Ekonomi Politik DR Sjahrir Relevansinya Sekarang dan Masa Datang di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis 28 Juli 2016)

Pemuda Indonesia Dalam Partisipasi Revulusi Industri Keempat

Negara dengan sumber daya manusia (SDM) yang unggul yang akan keluar menjadi pemenangnya. Intelektual propert menjadi etalase yang sangat penting, Bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia, Indonesia ternyata belum mampu mengakomodasi intelektual propertinya.

Banyak sekali potensi SDM yang diambil negara lain. Padahal beberapa kaum intelektual Indonesia justru lebih dihargai dan difasilitasi negara lain dalam mengembangkan kemampuannya berpikirnya untuk mengolah usaha negara lain dengan jaminan yang lebih menggairahkan dibandingkan tawaran oleh negara sendiri.

Padahal, Indonesia diproyeksikan mampu mengalami puncak pertumbuhan ekonomi pada 2045. Pada masa itu, sumber daya manusia akan didominasi oleh kelompok usia produktif. Oleh karena itu, kelompok ini perlu dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Dalam Moeldoko (Panglima TNI periode 2013-2015 Jenderal (Purn)) Pada saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional “Panvest 2017” di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Kamis 02 November 2017 menyampaikan, bahwa perguruan tinggi dinilai menjadi salah satu unsur penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkompeten dan mampu berkompetensi di lingkup dunia. Inovasi yang menjadi ranah perguruan tinggi yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Dengan memiliki inovasi, di masa depan kita akan memiliki daya saing yang tinggi. Selain menghasilkan inovasi, mahasiswa juga dituntut memiliki jiwa kepemimpinan.

Demikian pula dengan seorang pemimpin. Ketika jiwa kepemimpinan, tidak mampu mengalir, maka dikhawatirkan segala tugas dan kinerja akan stagnan. Seorang pemimpin harus punya kejelasan arah berpikir dan bersikap, serta memiliki visi misi yang dapat diwujudkan.

Oleh karena itu bagi anda para pemuda, mari siapkan dengan segera diri anda untuk menyambut revolusi industri keempat. Jangan sampai kita hanya menjadi pengamat belaka, namun mari kita ikut berpartisipasi didalamnya dan keluar menjadi bagian dari para pemenang.

*Opini ini ditulis Siti Khomsatun Ni’mah, S.Pd.