Muttaqin, Tekad Menyejahterakan Pati Bersama Kopi Jowo

PATI TALK – Pati Daily bersama founder Kopi Jowo, Muttaqin, Minggu (25 Februari 2018), di Desa Sidomulyo, Kecamatan Gunungwungkal. (Foto: Dian Septi Utami)

Gunungwungkal, PATIDAILY.COM ** Sejak 1980-an, kopi asal Pati beredar di pasaran, tanpa label. Bukan hanya daerah di sekitaran Pati, kopi Pati dinikmati hingga Jawa Timur. Kini, publik lebih mengenal kopi Lasem atau kopi Temanggung, daripada kopi Pati. Padahal, Lereng Muria adalah tempat potensial mengembangkan komoditas kopi, bila pun harus diekspor.

Hal tersebut disampaikan founder Kelompok Tani (Poktan) Tani Mulya Mandiri Desa Sidomulyo Kecamatan Gunungwungkal, Muttaqin, beberapa waktu lalu. Pada 2014, ia melahirkan brand ‘Kopi Jowo’ mengandalkan sekira 2.100 Ha lahan perkebunan kopi di Pati.

Bagi pencinta kopi, tentu saja familier dengan kualitas Kopi Jawa atau biasa disebut Java coffee. Kopi Jawa tidak memiliki bentuk yang sama dengan kopi asal Sumatera dan Sulawesi. Cita rasanya juga tidak terlalu kaya, sebagaimana kopi dari Sumatera atau Sulawesi, karena sebagian besar Kopi Jawa diproses secara basah (wet process).

Meskipun begitu, sebagian Kopi Jawa mengeluarkan aroma tipis rempah, sehingga membuatnya lebih baik dari jenis kopi lainnya. Kopi Jawa memiliki keasaman yang rendah dikombinasikan dengan kondisi tanah, suhu udara, cuaca, serta kelembapan udara.

Bagi Muttaqin, kopi merupakan komuditas usaha yang menjanjikan. Tumbuh di dataran tinggi, di pasaran nasional bahkan internasional, permintaan akan kopi sangatlah tinggi, sementara ketersediaannya masih jauh dari angka yang dibutuhkan.

“Seandainya petani mau menanam kopi, akan menciptakan ribuan lapangan pekerjaan. Dalam tanda kutip, orang Pati tidak harus merantau,” ujar Muttaqin, penuh optimisme.

Kopi Lasem, misalnya. Menurut Muttaqin, meski lahan perkebunan yang ditanami kopi di sana hanya berapa Ha, karena kepintaran warga Lasem dalam memanajemeni produk unggulan mereka, kopi Lasem dapat terkenal.

“Mereka pintar membuat brand yang khas mereka,” pujinya, seraya mengajak publik Pati untuk belajar dari hal itu.

Muttaqin menjelaskan, kualitas kopi asal Pati, terutama Lereng Muria, sebenarnya diakui brand-brand kopi tingkat nasional sebagai kopi terbaik. Lereng Muria yang dimaksud termasuk dalam tiga kabupaten, yakni Pati, Kudus, dan Jepara.

“(Lahan) yang paling bagus dalam penanaman kopi, yaitu lereng ke timur. Karena, sinar matahari pagi secara langsung mengenai bagian lereng ke timur secara geografis. Ibaratnya, luwak sendiri yang budidaya langsung, bukan penangkaran. Kenapa kopi luwak berkualitas, karena luwak sendiri memilih biji kopi yang sering terkena matahari pagi. Jadi, luwak tidak akan memakan kopi yang terkena sinar matahari (langsung). Itulah kelebihan geografis Kabupaten Pati,” ungkapnya detail.

Mayoritas masyarakat di sekitar Gunungwungkal adalah petani kopi, karena hasil budidayanya lebih menjanjikan dibanding hasil pertanian lain. Harga kopi, secara keseluruhan tidak mengalami kenaikan atau pun penurunan secara signifikan.

“(Harga kopi) rata-rata stabil, karena kebutuhan pasar nasional itu masih kurang. Lebih banyak permintaan,” kata tokoh yang sebelumnya telah mencoba berbagai macam profesi tersebut.

Belum Dilirik

Lebih lanjut, Muttaqin menjelaskan, hingga sekarang, profesi sebagai petani kopi belum begitu dilirik, terutama bagi para pemuda. Padahal, kopi tidak hanya tentang berkebun dan menanamnya. Salah satu tahapan produk yang dapat dicoba anak muda adalah prosesor kopi.

“Prosesor kopi tidak harus bertempat tinggal di sentra kopi. Bisa saja (misalnya) di wilayah Pati kota. Prosesor kopi tugasnya adalah membeli biji kopi dari petani. Dia memproses kopi hingga menentukan (tingkatan) grade A, B, dan C,” terangnya.

ASLI PATI – Muttaqin dalam sebuah pameran. (Foto: Dokumentasi Kopi Jowo)

Keuntungan prosesor, sambung Muttaqin, bisa luar biasa besar. Bila dibandingkan dengan pendapatan para petani yang masih mempertahankan  proses natural sejak zaman Belanda, harga kopi  berada di kisaran Rp22 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram.

“Sedangkan kalau kita belajar tentang semi-washed, honey process, proses basah, atau proses kering, itu sudah ada peningkan harga dari 60 hingga 100 persen. Dalam dua tahun terakhir, saya mencoba sebagai prosesor kopi,” paparnya mantap.

Muttaqin mengaku, ia kekurangan bahan baku grade A untuk konsumen sekelas kafe. Sementara pihak kafe berani membeli dengan harga tinggi. Biasanya, mereka menjual kopi hasil proses natural ke daerah lain. Walhasil, daerah lain itulah yang mendapatkan keuntungan besar.

“Dengan adanya kelompok tani yang saya bangun, mereka juga difasilitasi dan dididik cara mendapatkan kopi grade A, proses natural, semi-washed, dan honey process,” ungkapnya penuh dedikasi.

Bersama kelompok tani, Muttaqin berusaha menekan tengkulak yang mudah menentukan harga. Selain itu, dapat membuka peluang ekspor.

“Minimal, ada PT atau CV yang berdiri sendiri di Kabupaten Pati. Di situlah kita akan membuka pintu-pintu ekspor. Jadi, memperkenalkan langsung ke dunia bahwa produk Pati kayak gini, lho. Dengan seperti itu, akan meningkatkan SDM masyarakat di sekitar, membuka ribuan lapangan pekerjaan,” katanya serius.

Upaya Ekspor

Pada 2014-2017, Muttaqin fokus pada promosi Kopi Jowo. Secara garis besar, omset belum difokuskan, karena hal yang lebih penting adalah ketersediaan barang. Ukuran kemasan Kopi Jowo minimal 100 gram dengan empat varian kopi, dari proses sortasi kopi, proses natural, semi-washed, dan fermentasi.

Kopi fermentasi merupakan hasil riset salah satu pakar yang peduli pada petani kopi, yakni Prof Andri Cahyo Kumoro. Ia pengajar Teknik Kimia Universitas Diponegoro.

“Seandainya ada permintaan ekspor kopi luwak per bulan, kita tidak akan mampu. Karena, luwak itu kan hewan yang tidak bisa dipaksa harus memproduksi sekian sekian per hari. Dari itu, Prof Cahyo melakukan penelitian, untuk membuat kopi sekelas kopi luwak yang rendah asam dan rendah protein,” jelasnya.

Hasil penelitian Prof Cahyo telah dikirim ke Inggris dan Turki. Hingga kini, kelompok tani masih menunggu respons.

“Saya lulusan SD. Jatuh bangun mencari pekerjaan. Saya pernah berjualan pakaian, furniture mebel, jadi TKI. Banyak dari kita memikirkan usaha dan dalam pikiran kita pasti modal. Sebenarnya, bukan itu, akan tetapi, niat. Seandainya orang mengerti kalimat itu, di situlah kedewasaannya,” pungkas Muttaqin dengan yakin.