Komunitas Mahasiswa Karangsari Cluwak, Gali Potensi Desa dengan Kreativitas Muda

GALI POTENSI DESA – Komunitas Mahasiswa Karangsari Cluwak (Kosmasari) dalam sebuah kegiatan bersama anak-anak. (Foto: Kosmasari)

Cluwak, PATIDAILY.COM ** Bermula dari sebelas mahasiswa, kini komunitas ini mulai diminati. Bertekad membangun desa dengan penggalian potensi dan kreativitas. Komunitas Mahasiswa Karangsari (Kosmasari) dikreasi mahasiswa-mahasiswa Desa Karangsari, Kecamatan Cluwak. Anda harus tahu, karena semangat mereka luar biasa untuk membangun martabat desa.

“Awal mulai berdiri, Kosmasari diinisiasi mahasiswa-mahasiswa Karangsari di Jogja, di antaranya Riyanto, saya, dan Arif. Waktu itu, ada sebelas mahasiswa. Berawal dari keresahan mahasiswa yang sadar dengan lingkungan desanya, kami lantas membuat kegiatan,” kisah Saiful Anwar, atau akrab disapa Ipul, salah satu pendiri, beberapa waktu lalu.

Kegiatan pertama Kosmasari bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Pati untuk melakukan sosialisasi-sosialisasi bersifat positif. Pada 27 Januari 2014, mahasiswa-mahasiswa Kosmasari dari Semarang dan Kudus turut menyepakati berdirinya Kosmasari.

“Visi komunitas ini ingin menjadikan Karangsari bermartabat dan religius. Misinya, bergerak di social-pendidikan yang bisa berdampak dan bermanfaat langsung oleh masyarakat sekitar,” tutur Ipul.

Kosmasari, sambungnya, lantas mendirikan Omah Buku dan mengadakan les gratis untuk masyarakat. Bukan hanya itu, Kosmasari juga mengadakan serangkaian acara pengobatan gratis. Harapannya, Kosmasari mampu memberikan program-program kreatif, inovatif, dan solutif untuk masyarakat Desa Karangsari.

“Target ke depan, komunitas mahasiswa Karangsari sadar dengan situasi sosial-politik di sekitar desa, seperti menggali potensi ekonomi kreatif yang ada di desa,” ungkap Ipul mantap.

Local Wisdom

Kosmasari konsisten memegang tegung kebajikan lokal (local wisdom). Salah satunya, mempertahankan permainan tradisional untuk anak.

“Jenis permainan anak terus berkembang sesuai zamannya. Meskipun kini begitu marak permainan dalam bentuk digital yang bersifat lebih individual, bermain bersama teman dan non-virtual tetaplah dinilai sebagai cara sangat tepat untuk memperolah manfaat sebanyak-banyaknya dari kegiatan bermain,” terang Ipul.

Ia menjelaskan, untuk siswa Kelas V dan VI, karena perkembangannya sudah lebih lanjut, permainan yang semakin diminati adalah permainan yang mengasah kemampuan kognitif, seperti kemampuan mengingat, kemampuan menebak dengan cepat, dan lain-lain.

“Pada Harlah ke-4 Kosmasari, diadakan Lomba Permainan Tradisonal Gobag Sodor dan Bentengan. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan kembali kepada generasi milenial yang kesehariannya bermain gadget. Permainan ini bukan hanya sebagai ajang lomba, akan tetapi bertujuan memperkenalkan kembali permainan tradisonal yang saat ini mulai tidak ada lagi di keseharian anak-anak. Saat memperkenalkan permainan ini, anak-anak tidak tahu caranya bermain,” kata Ipul penuh prihatin.

Menurutnya, masa anak-anak adalah fase bermain dan belajar. Bermain bagi anak-anak usia 6-12 tahun merupakan cara yang paling efektif untuk belajar. Melalui kegiatan bermain, lanjut Ipul, baik dalam kerangka belajar di kelas maupun dalam waktu istirahatnya, siswa SD mengasah dan menyerap banyak hal, seperti keterampilan motorik, kemampuan bersosialisasi dan komunikasi, kecerdasan interpersonal, dan masih banyak lagi.