Yusuf Fatoni, Pendidikan adalah Komponen yang Paling Diperlukan dalam Aspek Kehidupan

ASIAN ISLAMIC UNIVERSITIES ASSOCIATION MEETING AND STRATEGIC PLAN GUIDELINES WORKSHOP – FTU Thailand, Yusuf Fatoni Jas Hitam Kerjasama dengan FT University (Foto : Yusuf Fatoni)

PATI — PATIDAILY.COM ** Pak Toni, begitu ia akrab disapa oleh para mahasiswa di Kampus Hijau Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati. Ia lahir di Pati, 29 Desember 1975 dari pasangan Muh Masyhud Isran dan Zulaikho. Nama lengkapnya Yusuf Fatoni MAg.

Waktu kecil, Toni memiliki cita-cita yang cukup sederhana, yakni ingin menjadi orang yang baik. Sejak kecil ia memang hidup di lingkungan akademisi, karena ayahnya seorang dosen dan sebagian besar keluarganya aktif di dunia pendidikan. Karena menurutnya Pendidikan adalah komponen yang paling diperlukan dalam aspek kehidupan, dengan pendidikan wawasan berfikir serta bertindak akan semakin terstruktur.

Salah satu realisasi dari pendidikan adalah dengan belajar, bahkan pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar selama 9 tahun. adanya program wajib belajar ini sasaranya adalah setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun, artinya setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar dengan mengikuti program wajib belajar. Sementara pemerintah wajib menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Sebab wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Untuk melaksanakan program Wajib belajar 9 tahun sebagai payung hukumnya, pemerintah telah mengeluarkan peraturan pemerintah no 47 tahun 2008 tentang pelaksanaan wajib belajar sembilan tahun.

Sebelum terjun ke dunia akademisi, Toni dulunya adalah seorang penjaga kantor di STAI Pati. Namun ia kemudian meneruskan pendidikan S2 untuk meraih cita-citanya menjadi dosen. Impiannya pun tercapai, ia diangkat menjadi dosen tetap dan mengajar mulai tahun 2003.

STAI Pati merupakan perguruan tinggi agama islam pertama di Kabupaten Pati. Di antara mereka adalah KH. Drs. Masyhud Isran sebagai selaku ketua YAPI, yang merasakan kegersangan dalam berkehiduan beragama di Kabupaten Pati. Dengan dukungan semua pihak maka didirikanlah lembaga pendidikan tinggi tersebut dengan dua rekomendasi. Pertama, rekomendasi Bupati KDH Tingkat II Pati No. 421.4/940 tanggal 28 Februari 1986 dan kedua, rekomendasi Kopertais Wilayah X Jawa Tengah No. 36/Kop.X/V/1986 tertanggal 13 Mei 1986. STAIP dalam sejarahnya mengalami perubahan nama sesuai dengan perkembangan peraturan yang berlaku di bidang pendidikan di Indonesia. Nama lembaga pendidikan tersebut yang pertama adalah Institut Agama Islam Pati disingkat IAIP, dengan satu fakultas yaitu Tarbiyah. Perkembangan berikutnya berdasarkan SK Menteri Agama No. 167/1989, IAIP dirubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pati. Hal ini mengingat bahwa sebuah Institut harus memiliki minimal 2 fakultas. Perkembangan selanjutnya STIT membuka jurusan baru, yaitu jurusan Syari’ah sehingga terbitlah keputusan Menteri Agama R.I Nomor : 234 Tahun 1995 yang merubah nama STIT menjadi STAI Pati, sesuai dengan KMA 159/1995 tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta dengan memperhatikan persetujuan Dirjen Binbaga Islam No. E/PP.03.2/B.VI/652/1995 tertanggal 1 Mei 1995.

Saat ini STAI Pati mengantongi Surat Ijin Operasional dari Dirjen Bagais Depag RI Nomor Dj.II/39/2004. Sejak awal pendiriannya, STAI Pati telah memiliki gedung perkuliahan sendiri. Pada awalnya STAI Pati menempati lahan wakaf di Jalan Wahid Hasyim No. 3 Pati, sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan perkuliahan. Karena perkembangan yang semakin mantap Kampus STAI Pati pindah ke lokasi baru di atas lahan wakaf yang berada di Jalan Kampus Raya No. 05 Pati. Di atas lahan tersebut berdiri tiga buah gedung yang diresmikan oleh Menteri Agama R. I. Drs. KH.M. Tolchah Hasan pada tanggal 10 Februari 2000.

Kini, selain menjadi dosen, Toni juga seorang wirausahawan. Bagi Toni, menjadi dosen atau tenaga pendidik bukanlah ladang untuk mencari penghidupan, sehingga ia berinisiatif membuka usaha. “Bagi saya pendidikan memang tidak untuk mencari penghidupan,” katanya belum lama ini.

Berwirausaha sambil menularkan ilmu merupakan pekerjaan baik bagi seorang tenaga pendidik, untuk menaruh keihklasan dalam menularkan ilmu, bukan lagi sebagai ladang untuk mencari kehidupan. Sejak zaman dulu berdagang adalah salah satu meraup pundi-pundi rezeki yang sangat lebar. Setelah menjadi dosen tetap, karier Toni berlanjut dan menjadi Kepala Jurusan (Kajur) Syariah. Dan kini ia sudah menduduki posisi tertinggi yakni menjadi Ketua STAI Pati. Toni mulai memimpin STAI Pati pada tahun 2011. Di dua periode kepemimpinannya, ia berhasil mengembangkan STAI Pati hingga semakin maju. Ia juga berhasil menjalin kerja sama dengan University Sains Islam Malaysia hingga menaikkan Jurusan Tarbiyah Progdi PAI menjadi Akreditasi B. Fasilitas dan pelayanan di STAI Pati kini juga semakin maju.